Artikel/Pasca Kehamilan/Dampak Strict Parents pada Anak, Apa Bahayanya?

Dampak Strict Parents pada Anak, Apa Bahayanya?

Siti Nurmayani Putri | Diterbitkan pada 08 Juni 2026
Ditinjau oleh Tim Ahli Hallobumil
Bagikan
Facebook
Twitter
WhatsApp
copylink
Strict parents adalah gaya mengasuh anak dengan aturan ketat. Mama harus waspadai dampaknya pada psikologi SI Kecil dan bagaimana pola asuh yang lebih baik.
dampak-strict-parents-pada-anak-apa-bahayanya

Istilah strict parents sering digunakan untuk menggambarkan orang tua yang sangat tegas, penuh aturan, dan memiliki ekspektasi tinggi terhadap anak.

Dalam dunia psikologi, pola ini mirip dengan pola asuh otoriter, yaitu gaya pengasuhan yang lebih menekankan kepatuhan dibanding komunikasi dua arah.

Tidak sedikit Mama dan Papa yang menerapkan pola parenting ini dengan tujuan agar anak tumbuh disiplin dan sukses.

Namun, penting dipahami bahwa dampak strict parents bisa berbeda pada setiap anak, terutama bila aturan diberikan tanpa kehangatan emosional.

Sayangnya, efek pola asuh otoriter yang terlalu keras dapat memengaruhi rasa percaya diri, kemampuan sosial, hingga kesehatan mental anak dalam jangka panjang.

Meski demikian, pengasuhan yang tegas tetap bisa memberikan manfaat bila dilakukan secara seimbang dan penuh empati.

Dampak Strict Parents pada Psikologi Si Kecil

Anak yang tumbuh dalam lingkungan dengan aturan sangat ketat cenderung lebih berhati-hati dalam bertindak. Namun, di balik itu, mereka juga bisa mengalami tekanan emosional jika terlalu sering dikritik atau dituntut sempurna.

Lantas, apa dampak strict parents terhadap psikologi anak? Jawabannya bisa sangat luas, mulai dari rasa takut berbuat salah hingga kesulitan mengekspresikan perasaan. Berikut dampaknya:

1. Dampak negatif jika berlebihan

Bahaya strict parents mulai terlihat ketika anak merasa tidak punya ruang untuk menyampaikan pendapat atau melakukan kesalahan.

Si Kecil mungkin menjadi mudah cemas karena takut dimarahi, takut mengecewakan orang tua, atau merasa dirinya tidak pernah cukup baik. Dalam beberapa kasus, anak juga bisa menjadi tertutup dan sulit membangun hubungan emosional yang sehat.

Dampak orang tua otoriter lainnya adalah anak cenderung memiliki harga diri rendah. Mereka terbiasa mengikuti perintah tanpa belajar mengambil keputusan sendiri.

Akibatnya, anak bisa kesulitan mandiri dan takut mencoba hal baru. Selain itu, tekanan yang terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko stres hingga gangguan kecemasan.

2. Dampak jangka panjang pada dewasa

Efek pola asuh otoriter tidak selalu berhenti saat anak tumbuh besar. Beberapa orang dewasa yang dibesarkan dengan strictparenting mengaku sulit percaya diri, terlalu perfeksionis, atau selalu takut dinilai buruk oleh orang lain.

Ada pula yang menjadi sangat bergantung pada validasi karena sejak kecil terbiasa hidup berdasarkan standar orang tua.

Di sisi lain, sebagian anak justru tumbuh menjadi pribadi yang memberontak. Mereka merasa terlalu dikontrol selama masa kecil sehingga mencari kebebasan secara berlebihan ketika dewasa. 

Hal ini menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu keras dapat memengaruhi cara seseorang membangun relasi, mengelola emosi, hingga mengambil keputusan.

3. Dampak positif (jika diterapkan dengan seimbang)

Meski sering dikaitkan dengan dampak negatif, strictparenting tidak selalu buruk. Anak tetap membutuhkan batasan dan aturan agar memahami tanggung jawab serta disiplin.

Jika diterapkan dengan komunikasi yang baik, pola asuh tegas justru dapat membantu anak belajar menghargai waktu, memahami konsekuensi, dan memiliki kontrol diri yang lebih baik.

Kuncinya terletak pada keseimbangan antara ketegasan dan kehangatan emosional. Anak perlu tahu bahwa aturan dibuat untuk melindungi mereka, bukan sekadar bentuk kontrol.

Ketika Mama tetap mendengarkan pendapat anak dan memberikan dukungan emosional, ia akan merasa lebih aman dan dihargai.

Kapan Strict Parenting Menjadi Berbahaya?

Bahaya strict parents perlu diwaspadai ketika aturan mulai membuat anak kehilangan rasa aman dan nyaman di rumah.

Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak menjadi sangat takut pada orang tua, sering berbohong untuk menghindari hukuman, mudah cemas, atau tampak kehilangan kepercayaan diri.

Strict parenting juga bisa menjadi berbahaya jika orang tua terlalu sering membandingkan anak, menggunakan ancaman verbal, atau tidak pernah memberikan apresiasi.

Anak yang terus dikritik tanpa dukungan emosional dapat merasa dirinya tidak berharga. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan hubungan anak dengan keluarga.

Bagaimana Sebaiknya Mama Mengasuh Si Kecil?

Mengasuh anak memang bukan hal mudah. Mama tentu ingin Si Kecil tumbuh disiplin, mandiri, dan memiliki masa depan yang baik.

Namun, penting untuk mengingat bahwa anak juga membutuhkan rasa aman, didengar, dan dicintai tanpa syarat. Berikut beberapa tips agar pengasuhan tidak terlalu strict:

1. Tetapkan aturan yang kelas dan masuk akal

Anak tetap membutuhkan aturan agar memahami batasan. Namun, pastikan aturan ini sesuai usia dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Hindari memberikan terlalu banyak larangan yang justru membuat anak tertekan, ya, Ma!

2. Dengarkan pendapat anak

Memberi kesempatan anak berbicara dapat membantu mereka belajar menyampaikan emosi dan pendapat dengan sehat. Anak juga akan merasa lebih dihargai ketika Mama dan Papa mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

3. Berikan apresiasi, bukan hanya kritik

Tidak sedikit anak dari strict parents merasa usahanya tidak pernah cukup. Oleh karena itu, jangan lupa memberikan pujian ketika anak melakukan hal baik, sekecil apa pun itu. Apresiasi dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri anak, lho!

4. Hindari hukuman yang bersifat merendahkan

Membentak, mempermalukan, atau membandingkan anak dengan orang lain dapat meninggalkan luka emosional. Sebaiknya gunakan konsekuensi yang mendidik dan tetap jelaskan alasan di balik aturan tersebut.

Perlu Mama ketahui, dampak strict parents bisa berbeda pada setiap anak. Pengasuhan yang tegas memang dapat membantu membentuk disiplin, tetapi jika dilakukan secara berlebihan tanpa empati, anak berisiko mengalami tekanan emosional dan masalah psikologis hingga dewasa.

Penting bagi orang tua untuk menemukan keseimbangan antara aturan dan kasih sayang agar anak tumbuh sehat secara mental maupun emosional.

Masih ingin belajar lebih banyak tentang pola asuh dan tumbuh kembang Si Kecil? Mama bisa download aplikasi HalloBumil.

Jangan lupa untuk daftar di aplikasi ini untuk mendapatkan berbagai tips parenting, informasi kesehatan keluarga, hingga panduan tumbuh kembang anak setiap hari.

Kalau Mama ingin berbagi cerita atau bertanya langsung dengan sesama orang tua, coba gabung ke komunitas WhatsApp HalloBumil. Di sana, Mama bisa saling bertukar pengalaman soal pengasuhan anak tanpa merasa sendirian.

Mama juga bisa mengikuti berbagai event HalloBumil yang membahas parenting, kesehatan Mama dan anak, hingga aktivitas seru bersama keluarga.

banner

Pertanyaan Populer

Jadilah orang tua super! Panduan 1000 Hari Pertama Kehidupan si kecil ada di sini. GRATIS.
image
image
image
image
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Belum ada komentar.
Login atau daftar dulu yuk ma biar bisa komen

Login/daftar yuk Ma

Tumbuh Bersama di 1000 Hari Pertama Si Kecil

Komunitas hangat untuk dapatkan tips, cerita inspiratif, dan teman baru pada 1000 hari pertama si kecil bersama Hallobumil
image