Artikel/Kehamilan/Nyeri Payudara Saat Menyusui

Nyeri Payudara Saat Menyusui

Diterbitkan pada 07 Desember 2020
Bagikan
Facebook
Twitter
WA
Nyeri atau peradangan payudara yang terjadi saat menyusui disebut mastitis. Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi.
nyeri-payudara-saat-menyusui

dr. Theresia Rina Yunita

Nyeri atau peradangan payudara yang terjadi saat menyusui disebut mastitis. Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam proses ini dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi. Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi.

Diagnosis mastitis ditegakkan berdasarkan kumpulan gejala sebagai berikut:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38,5oC
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.
  • Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin
  • Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.

Faktor risiko terjadinya mastitis antara lain:

1. Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.
2. Puting lecet.
Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan Mama menghindari pengosongan payudara secara sempurna.
3. Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek.
Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum sepanjang malam atau pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
4. Pengosongan payudara yang tidak sempurna
5. Pelekatan Si Kecil pada payudara yang kurang baik. Si Kecil yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.
6. Mama atau Si Kecil sakit.
7. Frenulum pendek.
8. Produksi ASI yang terlalu banyak.
9. Berhenti menyusu secara cepat/mendadak, misalnya saat bepergian.
10. Penekanan payudara misalnya oleh bra yang terlalu ketat atau sabuk pengaman pada mobil.
11. Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur, serpihan kulit, dan lain-lain.
12. Penggunaan krim pada puting.
13. Mama stres atau kelelahan.
14. Mama malnutrisi. Hal ini berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Tata laksana:

1. Istirahat dengan berbaring dan tingkatkan asupan cairan Mama
2. Antibiotik
3. Mama disarankan tetap menyusui dimulai dari payudara yang tidak sakit. Bila payudara yang sakit belum kosong setelah menyusui, pompa payudara untuk mengeluarkan isinya.
4. Kompres dingin untuk mengurangi bengkak dan nyeri
5. Obat anti nyeri
6. Sangga payudara Mama dengan atau bra yang sesuai
7. Perbaiki teknik menyusui

Pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi kuman-kuman yang resisten, adanya abses atau massa padat yang mendasari terjadinya mastitis seperti karsinoma duktal atau limfoma non Hodgkin. Berulangnya kejadian mastitis lebih dari dua kali pada tempat yang sama juga menjadi alasan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk menyingkirkan kemungkinan adanya massa tumor, kista atau galaktokel. Untuk itu, sebaiknya Mama memeriksakan diri kepada Dokter yang telah merawat Mama.

Baca lewat aplikasi lebih mudah loh, Ma
Dari artikel kehamilan hingga parenting, semua ada di aplikasi Hallo Bumil. Yuk, Download Ma
0
0
Bagikan
Facebook
Twitter
WA

Nikmati Perjalanan Kehamilan Bersama Bumil Lainnya

Gabung dan temui teman, tips, dan cerita inspiratif di komunitas Hallobumil untuk lewati masa hamil dengan penuh dukungan
image