Pendidikan Seksualitas untuk Balita
:strip_icc():format(webp)/hb-article/Ns7tE5OdBB9-a_Y3vwcZ7/original/478pendidikan-seksual-pada-anak-by-fuzzbones-shutterstock.jpg)
Anindita Budhi T., S.Psi
Sudah bukan zamannya lagi membicarakan seksualitas adalah hal tabu. Mama tentu tidak ingin pengetahuan tentang bagian pribadi tubuh ini justru didapat Si Kecil dari orang lain. Orang tua harus menjadi orang pertama dan utama yang membekali anak dengan pendidikan seksualitas.
Lalu, apakah harus menunggu Si Kecil lancar bicara atau duduk di bangku sekolah? Tidak, karena pendidikan seksualitas bisa dimulai sejak anak usia dini, tepatnya begitu ia berusia 24 bulan. Untuk mengetahui caranya, mari simak penjelasan berikut.
Jelaskan secara sederhana
Saat Mama berbicara pada Si Kecil tentang seksualitas, Mama perlu memaparkan sesuai usia Si Kecil. Kadang orang tua sudah cemas, “Berapa banyak yang harus saya katakan pada Si Kecil?” Padahal, Si Kecil tidak membutuhkan semua informasi itu dalam satu kali percakapan.
Anak usia dini cenderung tertarik pada bagaimana kehamilan bisa terjadi dan kelahiran bayi, daripada perilaku seks itu sendiri. Seiring pertambahan usia, Mama dapat melanjutkan percakapan mengenai seksualitas sesuai kapasitas dan pemahaman Si Kecil. Maka, menjelaskan dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti Si Kecil akan membantu Mama.
Pendidikan seksualitas untuk balita 24 bulan
Sebelum Mama berpikir terlalu jauh, pendidikan seksualitas justru diawali dari bagaimana Si Kecil mengenali dan menyebut bagian-bagian tubuhnya, termasuk alat kelamin. Maka, pakai sebutan yang benar untuk bagian tubuh Si Kecil. Misalnya, penis untuk alat kelamin laki-laki dan vulva untuk alat kelamin perempuan.
Penyebutan bagian tubuh yang benar juga membantu Si Kecil mengkomunikasikan isu kesehatan tubuhnya. Si Kecil juga paham bahwa bagian-bagian tubuh itu normal dan semua orang memilikinya. Tidak ada rasa takut saat menyebutkan bagian tubuh, sehingga citra tubuh positif pun terbangun.
Penyebutan jenis kelamin dengan tepat juga membantu Si Kecil membedakan laki-laki dan perempuan. Pemahaman ini perlu agar Si Kecil mengerti bahwa identitas gender seseorang ditentukan oleh alat kelaminnya, bukan cara seseorang berpakaian atau berperilaku, misalnya.
Kemudian, Mama juga perlu menyampaikan pada Si Kecil bahwa bagian tubuh mereka adalah sesuatu yang privat. Wajar bagi anak balita untuk mengeksplorasi tubuhnya sendiri, seperti memegang penis atau vulva, maupun meraba payudara. Namun, Mama harus mengatakan bahwa hal itu hanya bisa ia lakukan di dalam kamar mandi di rumah.
Pada anak balita yang memasuki usia prasekolah, Mama bisa menambahkan penjelasan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh bagian tubuh mereka tanpa izin. Untuk penjelasan lebih konkret, Mama bisa membekali Si Kecil dengan bagian tubuh mana saja yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh orang lain.
Contoh, bagian tubuh yang tertutupi pakaian dan celana hanya boleh disentuh diri sendiri. Bagian tubuh yang terbuka, seperti tangan atau kepala bisa disentuh orang dekat Si Kecil (misalnya, papa mama mencium pipi, teman menggandeng tangan, dst).
Jadi, Mama sekarang sudah tahu kan bagaimana mengajarkan pendidikan seksualitas pada anak 24 bulan? Ternyata tidak sulit ya, Mama hanya perlu memakai bahasa sederhana dan menjelaskan sesuai usia Si Kecil. Selamat mencoba! (AB)





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
