Mari Deteksi Masalah Pendengaran Anak Sedini Mungkin
:strip_icc():format(webp)/hb-article/ssm-rKjlud3Y4VieyzVGy/original/43159.jpg)
dr. Venny Beauty
Pendengaran merupakan bagian yang penting bagi kemampuan berbicara dan berbahasa Si Kecil. Anak belajar berbicara dengan mendengar dan meniru suara yang ada di sekitarnya. Adanya gangguan pada pendengaran sejak bayi atau balita dapat mempengaruhi perkembangan sosial, emosi dan kognitif anak. Masalah pendengaran yang tidak terdeteksi hingga usia 2-3 tahun dapat menyebabkan anak berisiko mengalami gangguan bicara yang permanen. Jika dideteksi lebih dini misalnya sebelum Si Kecil berusia 3 bulan, masalah pendengaran dapat diatasi lebih cepat dan dampaknya dapat diminimalisir. Karena itu, peran orang tua sangatlah penting dalam deteksi dini masalah pendengaran Si Kecil.
Masalah pendengaran pada anak dapat berupa bawaan sejak lahir dan kelainan yang didapat. Masalah pendengaran bawaan dapat disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan, kelahiran prematur, penyakit atau infeksi tertentu selama kehamilan, serta konsumsi obat yang menyebabkan gangguan pendengaran selama hamil. Sedangkan masalah pendengaran yang didapat bisa muncul kapan saja, biasanya akibat infeksi, perforasi gendang telinga, konsumsi obat-obatan yang menyebabkan gangguan pendengaran, paparan suara keras, cedera kepala, atau akibat penyakit tertentu.
Di Amerika Serikat dan Eropa, semua bayi baru lahir akan dilakukan tes untuk mengetahui gangguan pendengaran bawaan. Namun hal tersebut belumlah wajib dilakukan di Indonesia. Gejala gangguan pendengaran yang dapat terjadi sangat bervariasi, mulai dari ringan hingga yang berat. Orangtua dianjurkan mengamati perkembangan Si Kecil, dan mewaspadai jika terdapat gangguan pada pendengarannya.
Sebagian besar bayi berusia 0-1 bulan akan dapat bereaksi terhadap suara yang keras atau tiba-tiba. Mama dapat memperhatikan respons terkejut Si Kecil dengan memanjangkan lengan dan menekuk kaki. Gejala masalah pendengaran lain yang perlu diwaspadai adalah anak berusia 6 bulan dan tidak berespons ke arah sumber suara, atau anak tidak dapat menyebutkan satu kata pun saat berusia 1 tahun. Ketika anak makin besar, gejala gangguan pendengaran dapat berupa kemampuan bicara yang terbatas, pelafalan bicara tidak jelas, sering tidak atentif terhadap sekitar, mendengarkan televisi dengan volume keras, sulit mengerti perkataan orang, sulit berespon jika dipanggil atau diajak bicara, anak mengeluhkan nyeri pada telinga, kesulitan dalam belajar, hingga prestasi belajar di sekolah menurun.
Jika Mama menemukan gejala-gejala tersebut pada Si Kecil, segera bawa ke Dokter untuk diperiksakan. Dengan mengidentifikasi masalah pendengaran anak sedini mungkin, penanganan dapat segera dilakukan sehingga gangguan perkembangan pada anak pun dapat dicegah seminimal mungkin. (VB)





:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)
