Apakah Tongue-Tie pada Bayi Dapat Diobati?
:strip_icc():format(webp)/hb-article/hbXhjtjgBdl_xgkG4umZu/original/766week-27-day-4-apakah-tongue-tie-pada-bayi-dapat-diobati.jpg)
dr. Fiona Amelia, MPH
Bagi mereka yang baru saja menjadi ibu mungkin tak asing dengan istilah tongue-tie. Kondisi ini tergolong kelainan bawaan lahir, yang dapat membuat bayi sulit menyusu.
Sampai saat ini, belum diketahui dengan pasti mengapa seorang bayi bisa mengalami tongue-tie. Akan tetapi, para pakar menduga ada peran faktor genetik terhadap kemunculan kelainan ini.
Tongue-tie atau ankyloglossia terjadi ketika frenulum, yakni jaringan pengikat lidah ke dasar mulut, berukuran pendek atau tebal. Hal ini membuat lidah relatif kaku, sulit bergerak atau dijulurkan. Secara global, angka kejadiannya berkisar antara 1-10% dan lebih sering dialami bayi laki-laki.
Beragam Gangguan yang Bisa Terjadi Akibat Tongue-Tie
Tongue-tie tak selalu berdampak buruk pada bayi. Meski demikian, pada sebagian kasus bisa menyebabkan beberapa gangguan baik pada ibu maupun bayi.
Pada bayi baru lahir, tongue-tie bisa mengganggu proses menyusui. Agar mulut bayi dapat melekat dengan baik ke payudara ibu saat menyusu, bayi harus mampu menjulurkan lidahnya melampaui garis rahang. Pada bayi dengan tongue-tie, hal ini sulit dilakukan. Salah satu cirinya adalah terdengar suara ‘klik’ kala menyusu.
Untuk menjaga puting payudara tetap di mulut, bayi akan mencoba menjepit dengan gusi. Ini akan sangat tidak nyaman bagi ibu karena menyebabkan nyeri dan luka pada puting yang berkepanjangan. Selanjutnya, produksi ASI bisa berkurang serta ibu rentan mengalami mastitis (radang payudara) berulang.
Sedangkan bayi, karena sulit mempertahankan isapan saat menyusu, akan tampak gelisah dan kelihatan lapar sepanjang hari. Berat badan pun tidak naik secepat yang seharusnya.
Dalam jangka panjang, tongue-tie dapat menyebabkan:
- Masalah gigi dan mulut seperti gigi berlubang, gusi yang membengkak dan iritasi, serta munculnya celah di antara dua gigi bagian depan.
- Kerap tersedak ketika mulai MPASI.
- Kesulitan melakukan hal-hal mendasar seperti menjilat bibir atau membersihkan sisa-sisa makanan pada gigi.
- Mengalami gangguan pengucapan (artikulasi) terutama saat melafalkan huruf ‘t’, ‘d’, ‘z’, ‘s’, ‘n’, ‘r’, ‘th’, dan ‘l’, yang mana lidah perlu menyentuh langit-langit mulut. Melafalkan huruf ‘r’ akan sangat sulit.
Cara Mengatasi Tongue-Tie
Pada sebagian kasus, tongue-tie tidak begitu mengganggu dan tidak cukup berat sampai menimbulkan gejala yang tampak.
Umumnya bayi dan batita tidak memiliki masalah makan, menelan, atau berbicara sehingga tidak perlu dilakukan penanganan apa pun. Dan seiring dengan bertambahnya usia, kondisi tongue-tie bisa membaik dengan sendirinya.
Namun, bila tongue-tie menyebabkan gangguan tumbuh kembang yang bermakna, dapat dilakukan tindakan bedah khusus oleh dokter spesialis anak. Ada dua pendekatan untuk hal ini:
1. Frenektomi (atau disebut juga frenulektomi, frenulotomo, frenotomi)
Tindakan ini biasanya dilakukan di ruang praktik dokter (unit rawat jalan/poliklinik). Tindakan ini umumnya tidak sakit untuk bayi sehingga tidak memerlukan pembiusan.
Pada frenektomi, frenulum dijepit kemudian dipotong seluruhnya dengan gunting khusus. Bagian frenulum ini tidak mengandung banyak pembuluh darah dan saraf sehingga rasa sakit akan sangat minimal, begitupun dengan perdarahannya.
Bayi umumnya bisa segera menyusu kembali setelah dilakukan frenektomi.
2. Frenuloplasti
Bila frenulum terlalu tebal untuk dipotong seluruhnya, dokter umumnya memilih opsi ini. Pada frenuloplasti, frenulum dipotong hingga cukup longgar sehingga lidah bebas bergerak. Lama tindakan dan hasilnya mirip dengan frenektomi.
Seperti dengan tindakan bedah lainnya, kedua cara tersebut memiliki risiko seperti perdarahan, kerusakan pada lidah atau kelenjar ludah, dan infeksi. Pada frenuloplasti, ada risiko timbulnya jaringan parut. Bayi juga bisa mengalami reaksi terhadap obat-obatan yang digunakan saat tindakan berlangsung.
Kedua cara ini biasanya berhasil memperbaiki dan mencegah masalah-masalah yang muncul akibat tongue-tie.
Kendati demikian, tak semua dokter anak setuju bahwa tongue-tie harus dikoreksi. Sebagian dokter memilih untuk mengamati dan tunggu. Ini karena pada sebagian kasus, tongue-tie tidak menyebabkan masalah apa pun atau akan mengendur dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia.
Memang tidak ada cara untuk mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa depan. Gunakan naluri keibuan Mama untuk menilainya. Secara objektif, lihat juga bagaimana respons atau kondisi si Kecil bila dicurigai terdapat tongue-tie.
Jika tumbuh kembangnya tidak sesuai dengan usia, segera diskusikan dengan dokter apa langkah terbaik untuk si Kecil.




Bayiku lidahnya seperti di foto itu, tp smpai sekrg 6 bulan tampilkan selengkapnya
- 0
Hai Mama, jika Si Kecil mengalami tongue-tie namun tidak menimbulkan masalah seperti gangguan makan, menyusui, atau berbicara maka tidak perlu tindak lanjut. Namun jika hal tersebut menimbulkan gangguan tumbuh kembang segera konsultasi ke dokter . :) ^sm
- 0

:strip_icc():format(webp)/hb-article/o7jCGocZocavUFWpZEDx4/original/349apakah-asi-mama-cukup-untuk-si-kecil-by-buritora-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/r4I9cSAfdyIP6TxoGimD3/original/350peran-ayah-saat-ibu-berisitirahat-pasca-melahirkan-by-paulaphoto-shutterstock.jpg)
:strip_icc():format(webp)/hb-article/j90O2i5oTBWo6UpkmCHAh/original/346bagaimana-mengetahui-apakah-bayi-cukup-asi-by-atstock-productions-shutterstock.jpg)